Erau Adat Kutai Masuk KEN, Budaya Kutai Jadi Magnet Wisata Nusantara
Pembacaan titah
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Aji Muhammad Arifin tanda di
bukanya Erau Adat Kutai 2026 secara seremonial. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Erau Adat Kutai masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 dan menjadi salah satu event budaya yang diandalkan untuk memperkuat daya tarik wisata mancanegara ke-Indonesiam khususnya Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Hal tersebut
disampaikan dalam Opening Ceremony Erau Adat Kutai 2026 yang digelar di Stadion
Rondong Demang, Tenggarong, Minggu (20/9/2026).
Opening Ceremony Erau
Adat Kutai 2026 dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad
Arifin, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin,
Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata II Kementerian
Pariwisata RI Dwi Marhen Yono yang mewakili Menteri Pariwisata RI, Plt Asisten
Administrasi Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim Muhaimin, serta jajaran
Forkopimda Kukar beserta istri.
Ribuan warga turut
memadati Stadion Rondong Demang untuk menyaksikan langsung pembukaan Erau Adat
Kutai 2026 yang menjadi bagian dari KEN 2026 tersebut.
Asisten Deputi
Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata II Kementerian Pariwisata RI
Dwi Marhen Yono mengatakan, masuknya Erau dalam KEN 2026 merupakan hasil proses
kurasi terhadap ribuan event yang digelar di berbagai daerah di Indonesia.
“Dari 3.600 kita
kurasi dengan para pakar. Ini masuk 125 event dan alhamdulillah Festival Erau
Adat Kutai 2026 bisa masuk, dan mudah-mudahan ke depan bisa tetap
dipertahankan,” ujarnya.
Ia menyampaikan
apresiasi kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pemkab Kukar,
tokoh budaya, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Erau.
Menurutnya, masuknya
Erau dalam KEN bukan hanya menjadi pengakuan terhadap kekayaan budaya Kutai,
tetapi juga membuka peluang bagi Kukar untuk menarik lebih banyak wisatawan
sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Ia menyebut,
berdasarkan kerja sama Kementerian Pariwisata dengan Litbang Kompas pada tahun
sebelumnya, 125 event dalam KEN tercatat menghasilkan perputaran uang mencapai
Rp7,1 triliun.
“Harapan kami juga
sama nanti di Kutai Kartanegara. Karena event ini bukan hanya jeruk minum
jeruk, yang datang hanya orang Kutai, nginepnya di rumah, makannya di rumah,”
ujarnya.
Karena itu, ia
berharap Erau dapat dikembangkan sebagai event berkualitas yang mampu menarik
wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara.
Menurutnya, kunjungan
wisatawan akan memberikan dampak lebih besar apabila mereka tidak hanya datang
menyaksikan prosesi, tetapi juga tinggal lebih lama dan membelanjakan uang
selama berada di Kukar.
Ia juga menjelaskan,
budaya menjadi salah satu alasan penting bagi wisatawan dalam menentukan
destinasi perjalanan.
“Alasan yang pertama,
bukan lagi alam yang indah. Bukan lagi pantai yang indah. Tapi yang pertama
adalah culture atau budaya,” kata dia.
Selain budaya, ia
menyebut kuliner dan event turut menjadi bagian yang membentuk pengalaman
wisatawan selama berada di suatu daerah.
Menurutnya, kuliner
khas daerah dapat dikembangkan menjadi bagian dari pola perjalanan wisata,
sehingga wisatawan tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga memperoleh
pengalaman dari proses dan budaya di baliknya.
“Tidak hanya dijual
dalam bentuk sajian, tapi menjadi pola perjalanan wisata atau travel pattern.
Sehingga mereka datang, ikut masak, sampai dengan menikmati,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati
Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan pelaksanaan Erau tahun ini kembali
mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Sementara itu,
rangkaian adat dan prosesi sakral tetap berada dalam penyelenggaraan Kesultanan
Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Ia menjelaskan, Erau
memiliki dua komponen utama, yakni kegiatan seremonial dan rangkaian sakral
yang menjadi bagian penting dalam tradisi adat Kutai.
“Kegiatan Erau ini
terdiri dari dua komponen besar, yaitu kegiatan seremonial dan kegiatan
sakral,” ujarnya.
Sebelum Opening
Ceremony berlangsung di Stadion Rondong Demang, sejumlah prosesi sakral telah
dilaksanakan sejak pagi sebagai bagian awal rangkaian Erau Adat Kutai 2026.
“Kegiatan sakral tadi
pagi sudah kita tandai dengan menaikkan Tiang Ayu. Terus habis itu menyalakan
obor brong. Setelah itu kita bergeser ke Stadion Rondong Demang untuk
melaksanakan opening ceremony atau kegiatan seremonial pembukaan kegiatan Erau
ini,” jelasnya.
Setibanya di stadion,
rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan sejumlah simbol adat.
Pembacaan titah
Sultan, pemukulan gong dan menyalakan brong menjadi penanda dimulainya Erau
secara seremonial.
“Tadi pembacaan titah
Sultan sekaligus pemukulan gong dan menyalakan brong juga itu penanda bahwa
kegiatan Erau secara seremonial juga kita laksanakan,” ucapnya.
Ia mengatakan
rangkaian utama Erau berlangsung mulai 20 hingga 27 September 2026 dengan
berbagai kegiatan yang telah disiapkan.
“Kegiatan ini
terlaksana mulai tanggal 20 sampai tanggal 27, di mana setiap harinya ada
rangkaian-rangkaian kegiatan yang sudah ditetapkan,” tuturnya.
Rangkaian utama
tersebut nantinya ditutup dengan prosesi Belimbur yang menjadi salah satu
tradisi Erau yang paling dinantikan masyarakat, khususnya warga Tenggarong.
“Nanti diakhiri
dengan prosesi berlimbur. Sebagaimana ini juga yang ditunggu-tunggu oleh
seluruh warga masyarakat yang ada di Kutai Kartanegara, khususnya yang ada di
Tenggarong,” ungkapnya.
Di sisi kesultanan,
Juru Bicara Sultan Kutai Kartanegara, Pangeran Notonegoro Heriansyah,
menyampaikan rasa syukur karena seluruh prosesi pembukaan, baik sakral maupun
seremonial, berlangsung lancar.
Kondisi cuaca yang
cukup bersahabat juga membantu masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan yang
berlangsung sejak pagi.
“Alhamdulillah
prosesi pembukaan, baik itu sakral maupun seremonial, itu berjalan dengan
lancar dan ini wajib kita syukuri. Cuaca hari ini juga cukup bersahabat,”
ujarnya.
Di tengah rangkaian
kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari, Pangeran mengingatkan
masyarakat yang hadir untuk menjaga kondisi tubuh. Terlebih sebagian kegiatan
Erau digelar di ruang terbuka dan diikuti banyak orang.
“Himbauan saya kepada
seluruh pengunjung yang mengikuti Erau ini agar juga melengkapi dengan minum
air yang cukup, kemudian istirahat yang cukup, makan yang cukup, sehingga cuaca
ekstrem ini bisa dapat menikmati tahapan-tahapan dalam prosesi Erau,” imbaunya.
Penyelenggaraan Erau
tahun ini juga menghadirkan sejumlah pembaruan dalam konsep maupun penampilan.
Menurutnya, inovasi
tersebut diperlukan agar Erau tetap menarik bagi masyarakat tanpa menghilangkan
nilai adat yang terkandung di dalamnya.
“Alhamdulillah Erau
pada tahun ini, kalau kita melihat dari sisi persiapan, kemudian penampilan, ya
tentu ini berbeda dengan tahun yang kemarin. Konsepnya juga berbeda dan ini
terus kita agar tidak terasa ini monoton dan jenuh. Jadi kita buat inovasi-inovasi
tanpa menghilangkan makna kesakralan,” jelasnya.
Salah satu penampilan
dalam pembukaan ialah tari massal yang menggambarkan kehidupan masyarakat Kukar
dalam menjaga budaya sekaligus berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
“Ya, penari massal
tadi menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara
yang terus menjaga budaya dan berkolaborasi dengan lingkungannya,” tuturnya.
Menurutnya, pesan
tersebut menggambarkan hubungan antara budaya dan kehidupan masyarakat. Budaya
tidak hanya menjadi warisan yang dipertahankan, tetapi juga dapat menjadi
fondasi dalam membangun masa depan.
Ia pun menitipkan
pesan kepada generasi muda agar tetap mengenal dan menjaga budaya daerah di
tengah perkembangan zaman.
“Saya berharap bahwa
budaya kita itu sangat tinggi. Jadikan budaya kita ini sebagai fondasi kita
untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik lagi,” pesannya.
Ia juga berharap Erau
dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas sebagai bagian dari kekayaan
budaya Indonesia yang berasal dari Kutai Kartanegara.
“Harapan ke depan
bahwa Erau ini bisa kita lebih kita tingkatkan. Erau tidak hanya milik
Kabupaten Kutai Kartanegara, Erau ini bisa kita dorong bagaimana miliknya
Indonesia,” pungkasnya.
RANGKAIAN ERAU ADAT
KUTAI 2026
Selain Opening
Ceremony pada 20 September, Erau Adat Kutai 2026 diisi berbagai kegiatan sakral
dan umum yang berlangsung hingga akhir September.
Rangkaian sakral
meliputi Beluluh Sultan pada 20-26 September, Bepelas pada 20-23 dan 25-27
September, Maulid Barzanji dan Beseprah pada 24 September, serta Pengambilan
Air Tuli, Ngulur Naga dan Belimbur pada 27 September.
Selanjutnya,
Merebahkan Tiang Ayu dilaksanakan pada 28 September 2026.
Untuk kegiatan umum,
Expo, Bazar dan UMKM serta Lomba Olahraga Tradisional berlangsung pada 20-27
September.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Ziarah Makam dalam rangka HUT Kota Tenggarong ke-244 dan Sidang Paripurna HUT Kota Tenggarong pada 28 September 2026.
Antusiasme masyarakat
terlihat sepanjang pelaksanaan Opening Ceremony. Ribuan warga memadati Stadion
Rondong Demang, Kecamatan Tenggarong, untuk menyaksikan dimulainya rangkaian
Erau Adat Kutai 2026. (Adv/Kriz)